Jumat, 26 November 2021

Nasionalisme dalam Aroma Kolonial Pentas Musikan Mandalasana

Keraton Yogyakarta kembali menggelar Pentas Musikan Mandalasana pada 28 Oktober 2021 untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Acara yang digelar secara virtual dan disiarkan oleh kanal YouTube ini membawakan aransemen lagu bertema kebangsaan, perjuangan, dan kepemudaan. Lagu-lagu tersebut yaitu Satu Nusa Satu Bangsa, Bhinneka Tunggal Ika, Bangun Pemudi Pemuda, Garuda Pancasila, Tanah Airku, Dari Sabang Sampai Merauke, dan Bagimu Negeri. Pentas Musikan digelar di dalam lingkungan keraton, tepatnya di bangsal Mandalasana.

Bangsal Mandalasana merupakan sebuah tempat bergaya kolonial dalam lingkungan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Keberadaan bangsal ini menjadi bukti terjadinya perpaduan atau akulturasi budaya asli Indonesia dengan budaya Eropa, ciri budaya Eropa dapat dilihat sisi-sisi dari bangsal Mandalasana dihiasi oleh ornamen alat-alat musik barat.

Jejak musik Eropa telah dapat ditemui sejak berdirinya Keraton Yogyakarta. Alat musik terompet sempat diberikan sebagai hadiah oleh VOC kala itu atas lahirnya Kesultanan Yogyakarta. Sejak zaman Sri Sultan Hamengku Buwono V telah muncul perpaduan budaya musik antara gamelan keraton dengan alat musik Eropa. Perpaduan tersebut berupa penggunaan terompet dan genderang dalam mengiringi tarian bagian kapang-kapang pada tari Bedhaya dan Srimpi. Kapangkapang merupakan gerak berjalan maju yang digunakan ketika penari masuk dan keluar dari panggung. Akulturasi ini dikerjakan oleh dua orang berkebangsaan Belanda, yaitu Van Gouth dan Smith. Mereka bekerja atas perintah langsung dari Sri Sultan.

Bila menengok sedikit lebih jauh ke belakang, musik klasik Eropa pertama masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke-18, yaitu ketika awal masa penjajahan Belanda. Namun, sebetulnya musik asing dan instrument-instrumen klasik telah diperkenalkan terlebih dahulu kepada para musisi Indonesia saat era pendudukan Portugis.

Bila melihat belenggu yang pernah diberikan oleh pemerintah kolonial pada masa lampau, dapat dikatakan bahwa bangsal Mandalasana ini juga merupakan salah satu bentuk daripada belenggu itu. Sri Sultan Hamengkubuwono VIII pada saat pemerintahannya (1921-1939) harus menjaga hubungan baik dengan Belanda, sehingga beliau harus pula memfasilitasi dengan baik tamu-tamu dari pihak Belanda yang datang ke keraton. Untuk itu Sultan membangun beberapa belenggu itu. Sri Sultan Hamengkubuwono VIII pada saat pemerintahannya (1921-1939) harus menjaga hubungan baik dengan Belanda, sehingga beliau harus pula memfasilitasi dengan baik tamu-tamu dari pihak Belanda yang datang ke keraton. Untuk itu Sultan membangun beberapa bangunan tambahan agar jamuan-jamuan dan acara-acara protokoler dapat berlangsung dengan baik, salah satunya adalah bangsal Mandalasana ini. Bangsal ini digunakan untuk mementaskan musik dan menghibur tamu-tamu dari pihak Belanda yang datang seperti dalam acara Tedhak Loji. Acara Tedhak Loji adalah kegiatan saling berkunjung antara Sri Sultan dengan Residen Belanda.

Di satu sisi pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII terjadi perkembangan pesat dalam bidang seni budaya. Sri Sultan melengkapi iringan kapang-kapang pada tari Bedhaya, Srimpi, dan Beksan Trunajaya dengan alat Eropa lain yaitu musik biola. Iringan tari pada masa ini menjadi lebih kaya dan lebih hidup.

Setelah mengalami vakum sekitar delapan puluh tahun sejak tahun 1939. Bangsal Mandalasana kembali mengadakan pertunjukan atau pentas musikan pada tahun 2019 dalam rangka HUT ke 74 Republik Indonesia, lalu pada tahun 2020 juga diadakan pentas musikan dalam rangka memperingati serangan umum 1 Maret 1949, pada tahun 2021 kembali diadakan pentas musikan untuk memperingati serangan umum 1 Maret dan terakhir diadakan bulan Oktober 2021 untuk memperingati hari Sumpah Pemuda.

Para pemain musik atau Musikan di bangsal Mandalasana merupakan satuan Abdi Dalem Kasultanan Yogyakarta. Kelompok ini tercatat ada sejak masa kepeimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Alat musik yang dimainkan diantaranya terompet, trombone, saxophone, dan senar drum.

Tak dapat dipungkiri bahwa kegiatan pentas musik di Keraton Yogyakarta merupakan warisan dari budaya Eropa khususnya Belanda namun dengan terciptanya lagu-lagu bertemakan kebangsaan, perjuangan dan kepemudaan oleh komposer-komposer kita seperti WR. Supratman, Ismail Marzuki dan lain-lain, irama instrumental ala kolonial ini justru dapat membangkitkan semangat nasionalisme yang menggebu-gebu dalam darah kita sebagai bangsa Indonesia.

Sumber : kratonjogja.id/

Diaz Vindrariatno

Mahasiswa Sastra Indonesia





Jumat, 17 Januari 2014

Bumi Itu Al-Quran



Penulis : KH. Fahmi Basya
Judul : Bumi Itu Al-Quran
Anak Judul : Menguak Alam Semesta Melalui Matematika Al-Quran
Tahun : 2013
Penerbit : Zahira
Halaman : 440 halaman


Sebetulnya buku ini sudah saya beli akhir tahun 2013 lalu, namun baru berhasil saya selesaikan di awal Januari 2014 ini. Ketertarikan pada buku ini tidak terlepas dari buku beliau sebelumnya yang berjudul "Borobudur & Peninggalan Nabi Sulaiman" yang begitu memukau bagi saya. Sehingga ketika melihatnya bertengger di meja kasir Gramedia Cinere dengan label best seller, saya pun tak berpikir panjang untuk membeli.

Sempat terpikir bahwa kata "matematika Al-Quran" di sini tidak benar-benar bicara tentang ilmu matematika yang rumit-rumit, melainkan pastilah matematika di sini hanya menjelaskan betapa Al-Quran itu adalah kitab yang sangat logis dan dijabarkan dengan bukti dari A-Z. Tapi ternyata saya keliru. Buku ini rupanya betul-betul bicara tentang matematika yang sangat matematis dan angka-angka istimewa seperti golden ratio dan semacamnya.

Di dalam prolognya, KH. Fahmi Basya sudah mengajak kita untuk bermain-main dengan matematika. Yakni seperti ini:

Kalau kita mempunyai kertas setipis 1/1000 mm. Kemudian dipotong dua, kemudian didempetkan, kemudian dipotong dua sekaligus, kemudian didempetkan lagi dan dipotong dua sekaligus, terus sampai pemotongan yang ke 50. Maka berapa kira-kira tinggi kertas itu? Bagaimana pun akal kita akan mengatakan bahwa jawabannya tidak mungkin lebih dari 1 meter. Dan kalau ada yang mengatakan kertas itu tingginya akan sampai ke langit melewati bulan, tentu kita akan bilang itu tidak masuk akal.

Sekarang coba kita hitung, karena ada 50 kali pemotongan, maka kertas itu semua adalah 2 pangkat 50. hasilnya adalah 1.000.000.000.000.000.

Karena kertas itu tipisnya 1/1000 mm, maka tinggi kertas ini adalah 1.000.000 km. Maka benarlah tinggi kertas itu akan sampai ke langit dan melewati bulan, sebab jarak bumi kita dengan bulan saja hanya sekitar 380.000 km, tidak sampai 1 juta km.

Selain itu, pada halaman 127-128 buku ini juga memberi jawaban secara matematis, mengapa thawaf itu berkeliling ka'bah sebanyak 7 kali. Masih ingat dengan rumus keliling lingkaran?

K = 22/7 x diameter lingkaran.

Lalu menunjukkan arti apakah angka 22 dalam Al-Quran? Mungkin sebaiknya Anda membacanya langsung agar bisa mengerti bahwa sejak jaman Nabi Ibrahim, Allah sudah berupaya memberi tahu kita bahwa cara menghitung keliling lingkaran adalah dengan mengalikan diameter lingkaran tersebut dengan bilangan 22/7. Masya Allah, saya sendiri terus bergumam dan berdecak kagum, sungguh tak ada yang tak sanggup dijelaskan oleh Al-Quran.


Namun buku ini memang bukan buku yang mudah dipahami dengan sekali dua kali baca saja. Perlu beberapa kali membuka bab dan halaman yang sama untuk saya bisa benar-benar mencerna, dan menghubungkannya dengan pelajaran eksakta yang pernah saya pelajari. Betapa pun KH. Fahmi Basya mencoba untuk menjelaskan sesederhana mungkin, buku ini tetap masuk kategori buku berat buat saya.

Meski begitu, para penggemar pelajaran eksakta perlu membeli buku ini untuk menambah keyakinan pada keistimewaan Al-Quran. Dan bagi mereka yang pusing dengan angka, mungkin sebaiknya membeli buku beliau yang sejenis dengan judul yang lain. Tapi tak ada salahnya juga membeli jika untuk menambah koleksi dan menghilangkan penasaran tentang isinya.