Keraton Yogyakarta kembali menggelar Pentas Musikan Mandalasana pada 28 Oktober 2021 untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Acara yang digelar secara virtual dan disiarkan oleh kanal YouTube ini membawakan aransemen lagu bertema kebangsaan, perjuangan, dan kepemudaan. Lagu-lagu tersebut yaitu Satu Nusa Satu Bangsa, Bhinneka Tunggal Ika, Bangun Pemudi Pemuda, Garuda Pancasila, Tanah Airku, Dari Sabang Sampai Merauke, dan Bagimu Negeri. Pentas Musikan digelar di dalam lingkungan keraton, tepatnya di bangsal Mandalasana.
Bangsal Mandalasana merupakan sebuah tempat bergaya kolonial dalam lingkungan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Keberadaan bangsal ini menjadi bukti terjadinya perpaduan atau akulturasi budaya asli Indonesia dengan budaya Eropa, ciri budaya Eropa dapat dilihat sisi-sisi dari bangsal Mandalasana dihiasi oleh ornamen alat-alat musik barat.
Jejak musik Eropa telah dapat ditemui sejak berdirinya Keraton Yogyakarta. Alat musik terompet sempat diberikan sebagai hadiah oleh VOC kala itu atas lahirnya Kesultanan Yogyakarta. Sejak zaman Sri Sultan Hamengku Buwono V telah muncul perpaduan budaya musik antara gamelan keraton dengan alat musik Eropa. Perpaduan tersebut berupa penggunaan terompet dan genderang dalam mengiringi tarian bagian kapang-kapang pada tari Bedhaya dan Srimpi. Kapangkapang merupakan gerak berjalan maju yang digunakan ketika penari masuk dan keluar dari panggung. Akulturasi ini dikerjakan oleh dua orang berkebangsaan Belanda, yaitu Van Gouth dan Smith. Mereka bekerja atas perintah langsung dari Sri Sultan.
Bila menengok sedikit lebih jauh ke belakang, musik klasik Eropa pertama masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke-18, yaitu ketika awal masa penjajahan Belanda. Namun, sebetulnya musik asing dan instrument-instrumen klasik telah diperkenalkan terlebih dahulu kepada para musisi Indonesia saat era pendudukan Portugis.
Bila melihat belenggu yang pernah diberikan oleh pemerintah kolonial pada masa lampau, dapat dikatakan bahwa bangsal Mandalasana ini juga merupakan salah satu bentuk daripada belenggu itu. Sri Sultan Hamengkubuwono VIII pada saat pemerintahannya (1921-1939) harus menjaga hubungan baik dengan Belanda, sehingga beliau harus pula memfasilitasi dengan baik tamu-tamu dari pihak Belanda yang datang ke keraton. Untuk itu Sultan membangun beberapa belenggu itu. Sri Sultan Hamengkubuwono VIII pada saat pemerintahannya (1921-1939) harus menjaga hubungan baik dengan Belanda, sehingga beliau harus pula memfasilitasi dengan baik tamu-tamu dari pihak Belanda yang datang ke keraton. Untuk itu Sultan membangun beberapa bangunan tambahan agar jamuan-jamuan dan acara-acara protokoler dapat berlangsung dengan baik, salah satunya adalah bangsal Mandalasana ini. Bangsal ini digunakan untuk mementaskan musik dan menghibur tamu-tamu dari pihak Belanda yang datang seperti dalam acara Tedhak Loji. Acara Tedhak Loji adalah kegiatan saling berkunjung antara Sri Sultan dengan Residen Belanda.
Di satu sisi pada era Sri Sultan Hamengku Buwono VIII terjadi perkembangan pesat dalam bidang seni budaya. Sri Sultan melengkapi iringan kapang-kapang pada tari Bedhaya, Srimpi, dan Beksan Trunajaya dengan alat Eropa lain yaitu musik biola. Iringan tari pada masa ini menjadi lebih kaya dan lebih hidup.
Setelah mengalami vakum sekitar delapan puluh tahun sejak tahun 1939. Bangsal Mandalasana kembali mengadakan pertunjukan atau pentas musikan pada tahun 2019 dalam rangka HUT ke 74 Republik Indonesia, lalu pada tahun 2020 juga diadakan pentas musikan dalam rangka memperingati serangan umum 1 Maret 1949, pada tahun 2021 kembali diadakan pentas musikan untuk memperingati serangan umum 1 Maret dan terakhir diadakan bulan Oktober 2021 untuk memperingati hari Sumpah Pemuda.
Para pemain musik atau Musikan di bangsal Mandalasana merupakan satuan Abdi Dalem Kasultanan Yogyakarta. Kelompok ini tercatat ada sejak masa kepeimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Alat musik yang dimainkan diantaranya terompet, trombone, saxophone, dan senar drum.
Tak dapat dipungkiri bahwa kegiatan pentas musik di Keraton Yogyakarta merupakan warisan dari budaya Eropa khususnya Belanda namun dengan terciptanya lagu-lagu bertemakan kebangsaan, perjuangan dan kepemudaan oleh komposer-komposer kita seperti WR. Supratman, Ismail Marzuki dan lain-lain, irama instrumental ala kolonial ini justru dapat membangkitkan semangat nasionalisme yang menggebu-gebu dalam darah kita sebagai bangsa Indonesia.
Sumber : kratonjogja.id/
Diaz Vindrariatno
Mahasiswa Sastra Indonesia